Desa Sade Lombok
Lombok memang terkenal dengan pantai, bukit, dan gugusan gili yang cantik. Namun perjalanan ke pulau ini akan terasa lebih lengkap kalau kamu juga mengenal budaya masyarakat Sasak yang menjadi bagian penting dari identitas Lombok. Salah satu tempat yang bisa kamu kunjungi untuk melihatnya dari dekat adalah Desa Sade di Lombok Tengah.
Di sini, kamu tidak hanya datang untuk melihat rumah tradisional. Kamu bisa berjalan di antara permukiman masyarakat, mengenal bentuk rumah adat Sasak, melihat proses menenun, memahami kebiasaan lokal, hingga menyaksikan bagaimana tradisi masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Secara administratif, Sade sebenarnya merupakan sebuah dusun yang berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Karena sudah lama dikenal sebagai destinasi wisata budaya, banyak wisatawan lebih familiar dengan sebutan Desa Sade atau Desa Adat Sade.
Mengenal Desa Sade di Lombok Tengah
Desa Sade berada di bagian selatan Pulau Lombok dan lokasinya cukup strategis untuk dimasukkan ke dalam itinerary menuju kawasan Mandalika.
Menurut informasi resmi pariwisata NTB, kawasan adat ini memiliki luas sekitar 5,5 hektare dengan kurang lebih 150 rumah tradisional. Kehidupan masyarakatnya masih sangat dekat dengan budaya Sasak, mulai dari arsitektur rumah, penggunaan bahasa lokal, kegiatan menenun, hingga berbagai kebiasaan sosial yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Sade juga bukan destinasi budaya yang baru dikenal beberapa tahun terakhir. Catatan Indonesia Travel menyebut wisatawan telah mulai berkunjung ke kawasan ini sejak sekitar tahun 1970-an. Posisi dusun yang berada di jalur Praya–Kuta membuatnya mudah disinggahi dalam perjalanan menuju Lombok Selatan.
Itulah salah satu alasan mengapa Desa Sade sering menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Sasak tanpa harus pergi terlalu jauh dari kawasan wisata utama Lombok Tengah.
Rumah Tradisional Sasak yang Menjadi Ciri Khas Desa Sade
Begitu memasuki Desa Sade, salah satu hal pertama yang menarik perhatian adalah deretan rumah tradisional dengan atap alang-alang.
Bangunan-bangunan tersebut dibuat menggunakan material lokal seperti bambu, tanah liat, dan alang-alang. Teknik konstruksinya juga mempertahankan banyak unsur tradisional yang sudah digunakan masyarakat sejak lama.
Salah satu jenis bangunan yang bisa kamu temukan adalah Bale Tani, yaitu rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal keluarga. Selain itu, terdapat berugak yang berfungsi sebagai tempat berkumpul serta lumbung yang digunakan untuk menyimpan hasil pertanian.
Bentuk rumahnya relatif sederhana, tetapi setiap bagian memiliki fungsi yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan.
Atap alang-alang, misalnya, membantu menjaga suhu di dalam rumah agar tidak terlalu panas pada siang hari. Beberapa pintu rumah juga dibuat rendah sehingga orang yang masuk perlu sedikit membungkukkan badan.
Melihat rumah-rumah tersebut secara langsung memberi gambaran bahwa arsitektur tradisional tidak hanya berbicara soal bentuk, tetapi juga tentang cara masyarakat menyesuaikan tempat tinggal dengan lingkungan dan nilai budaya mereka.
Tradisi Unik Merawat Lantai Rumah
Salah satu hal yang paling sering membuat wisatawan penasaran saat berkunjung ke Desa Sade adalah cara masyarakat merawat lantai rumah tradisional mereka.
Lantai rumah terbuat dari tanah dan secara berkala dilapisi menggunakan campuran bahan tradisional yang salah satunya berupa kotoran sapi atau kerbau. Praktik tersebut digunakan untuk menjaga permukaan lantai tetap padat, mengurangi debu, serta membantu mempertahankan kondisi lantai.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali mendengarnya, kebiasaan ini mungkin terdengar tidak biasa. Namun bagi masyarakat Sade, cara tersebut merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang telah dilakukan selama beberapa generasi.
Hal-hal seperti inilah yang membuat kunjungan ke Sade berbeda dari sekadar melihat replika rumah adat di sebuah museum. Rumah-rumah di sini benar-benar menjadi bagian dari lingkungan tempat masyarakat tinggal dan menjalani keseharian.
Melihat Kehidupan Masyarakat Sasak dari Dekat
Daya tarik Desa Sade tidak berhenti pada bentuk bangunannya.
Saat berjalan melewati jalan-jalan kecil di dalam desa, kamu juga dapat melihat aktivitas masyarakat sehari-hari. Ada warga yang membuat kerajinan, menenun, menjaga toko kecil, berbincang di berugak, hingga mendampingi wisatawan mengenal kawasan.
Masyarakat Sasak merupakan kelompok etnis utama di Pulau Lombok, dan budaya mereka dapat dilihat melalui berbagai aspek seperti permukiman tradisional, kerajinan, kesenian, bahasa, dan tradisi sosial.
Karena itu, sebaiknya jangan hanya datang untuk mengambil foto lalu langsung meninggalkan desa.
Kalau ada kesempatan, dengarkan penjelasan pendamping lokal mengenai fungsi bangunan, adat, atau cerita di balik kehidupan masyarakat Sade. Dengan cara tersebut, kunjunganmu akan terasa jauh lebih bermakna.
Tradisi Menenun yang Masih Dipertahankan
Selain rumah adat, Desa Sade juga dikenal dengan tradisi menenunnya.
Kamu dapat melihat perempuan Sasak menggunakan alat tradisional untuk menyusun benang menjadi kain dengan berbagai motif. Keterampilan ini telah lama diwariskan antargenerasi dan menjadi salah satu bagian penting dari budaya masyarakat setempat.
Proses pembuatan kain tidak dilakukan dengan cepat. Benang harus disusun secara teliti agar menghasilkan pola yang sesuai dengan motif yang diinginkan.
Beberapa motif khas Lombok juga bisa ditemukan dalam produk tenun yang dibuat oleh masyarakat Sade. Produk tersebut kemudian dijual kepada wisatawan dalam berbagai bentuk, mulai dari kain hingga kerajinan berukuran lebih kecil.
Kalau kamu tertarik membeli, tidak ada salahnya menanyakan langsung mengenai motif, cara pembuatan, atau lama pengerjaan kain tersebut. Selain mendapatkan oleh-oleh, kamu juga bisa membawa pulang cerita tentang bagaimana produk itu dibuat.
Mengenal Peresean, Salah Satu Seni Tradisional Sasak
Budaya Sasak juga memiliki kesenian tradisional bernama Peresean.
Peresean merupakan pertunjukan yang melibatkan dua petarung dengan rotan dan perisai. Tradisi ini dikenal sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan Sasak dan masih diperkenalkan kepada wisatawan di beberapa kawasan budaya Lombok, termasuk Sade.
Namun perlu diingat bahwa pertunjukan tidak selalu berlangsung setiap saat.
Karena itu, kalau tujuan utamamu adalah menyaksikan Peresean, sebaiknya pastikan terlebih dahulu apakah sedang ada pertunjukan atau agenda tertentu ketika kamu datang.
Kalaupun tidak ada, kamu tetap bisa mengenal budaya Sade melalui arsitektur, kerajinan, dan kehidupan masyarakatnya.
Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Mengunjungi Desa Sade?
Untuk kunjungan santai, sekitar satu hingga dua jam biasanya sudah cukup untuk berkeliling di area utama Desa Sade.
Waktu tersebut dapat digunakan untuk berjalan melihat rumah-rumah adat, mendengarkan penjelasan lokal, melihat proses menenun, berfoto, serta melihat berbagai produk kerajinan.
Kalau kamu termasuk orang yang senang mempelajari budaya atau ingin berbincang lebih lama dengan masyarakat, tentu kamu bisa meluangkan waktu lebih panjang.
Tidak perlu terburu-buru. Salah satu cara terbaik menikmati destinasi budaya justru dengan berjalan perlahan dan memperhatikan detail-detail kecil di sekitarmu.
Cara Menuju Desa Sade
Desa Sade berada di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
Dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, perjalanan menuju kawasan ini membutuhkan sekitar 25–30 menit dalam kondisi perjalanan normal. Sementara dari Kota Mataram, waktu tempuhnya sekitar satu hingga satu setengah jam.
Dari kawasan Kuta Mandalika, lokasinya jauh lebih dekat sehingga Sade sangat mudah dimasukkan ke dalam perjalanan satu hari menjelajahi Lombok Selatan.
Akses paling praktis biasanya menggunakan kendaraan pribadi, rental kendaraan, atau mobil dengan driver karena transportasi umum langsung menuju kawasan desa cukup terbatas.
Kombinasikan dengan Destinasi Lombok Selatan
Posisi Desa Sade membuatnya mudah digabungkan dengan beberapa tempat menarik lainnya.
Setelah mengenal budaya Sasak, perjalanan bisa diteruskan menuju Kuta Mandalika, Pantai Tanjung Aan, Bukit Merese, atau berbagai pantai lainnya di Lombok Tengah.
Indonesia Travel mencatat Pantai Kuta Mandalika berada tidak jauh dari Sade dan dapat dicapai dalam waktu sekitar 15 menit berkendara, tergantung kondisi perjalanan.
Dengan rute seperti ini, satu hari perjalanan bisa memberikan dua suasana sekaligus: mengenal kehidupan tradisional masyarakat Sasak pada pagi hari kemudian menikmati pantai dan perbukitan Lombok Selatan menjelang sore.
Tips Saat Berkunjung ke Desa Sade
Karena Sade adalah lingkungan tempat masyarakat benar-benar tinggal, penting untuk tetap menghormati ruang pribadi penduduk selama berkunjung.
Mintalah izin sebelum mengambil foto seseorang dari jarak dekat, terutama ketika warga sedang melakukan aktivitas pribadi. Jika memasuki rumah atau area tertentu, ikuti arahan dari pendamping lokal.
Gunakan pakaian yang nyaman dan tetap sopan karena kamu mengunjungi kawasan budaya dan permukiman masyarakat.
Kalau membeli kain atau kerajinan, sempatkan bertanya tentang produk yang kamu pilih. Percakapan sederhana dengan pengrajin sering kali justru menjadi bagian paling menarik dari pengalaman berkunjung.
Perlu diketahui pula bahwa pada 2026 sebagian kawasan Sade mengalami kebakaran dan proses rekonstruksi rumah adat serta fasilitas yang terdampak telah dimulai dengan tetap mempertahankan karakter budaya dan teknik tradisionalnya. Pemerintah NTB menyatakan pemulihan diarahkan bukan hanya untuk membangun kembali struktur fisik, tetapi juga menjaga nilai adat, pengetahuan, dan identitas budaya Sade.
Mengenal Lombok dari Sisi yang Berbeda di Desa Sade
Ada banyak cara menikmati Lombok.
Kamu bisa mengejar sunset di pantai, snorkeling di gili, mendaki perbukitan, atau menjelajahi air terjun. Namun berkunjung ke Desa Sade memberikan pengalaman yang berbeda karena kamu bisa melihat salah satu bagian penting dari identitas Pulau Lombok: kehidupan dan budaya masyarakat Sasak.
Rumah tradisional, proses menenun, kerajinan lokal, serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi membuat desa ini layak dimasukkan ke dalam itinerary, terutama kalau kamu sedang menjelajahi Lombok Tengah dan Mandalika.
Kalau ingin menggabungkan Desa Sade dengan pantai, bukit, atau destinasi lain tanpa perlu menyusun rute sendiri, SiniKeLombok bisa membantu menyesuaikan perjalanan berdasarkan waktu dan tempat yang ingin kamu kunjungi.
Karena perjalanan ke Lombok bukan hanya tentang melihat tempat yang indah. Mengenal orang, tradisi, dan kehidupan di balik sebuah destinasi sering kali justru menjadi cerita yang paling lama kamu ingat.